Media pembelajaran berbasis audio visual adalah media penyaluran pesan dengan memanfaatkan indera pendengaran dan penglihatan.

Pengertian media Audio Visual dilihat dari etimologi “kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar, yang maksud sebagai “perantara atau alat menyampaikan sesuatu”.

Menurut AECT (Association For Education Communication Technology) dalam Arsyad mendefinisikan bahwa “ media adalah segala bentuk yang dipergunakan untuk menyalurkan pesan informasi” (Musfiqon, 2012:72).

Pengertian dan Jenis-Jenis Media Pembelajaran Berbasis Audio - Visual

“Audio Visual adalah media instruksional modern yang sesuai dengan perkembangan zaman (kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi), meliputi media yang dapat dilihat dan didengar”.

Media Pembelajaran Berbasis Audio – Visual.

Baca Juga:

Jenis Media Audio-Visual

1.Media film dan audio

Film adalah gambar hidup, juga sering disebut movie. Film, secara kolektif sering disebut sinema. Sinema itu sendiri bersumber dari kata kinematik atau gerak.

Film juga sebenarnya merupakan lapisan-lapisan cairan selulosa, biasa dikenal di dunia para sineas sebagai seluloid.

Video adalah seperangkat komponen atau media yang mampu menampilkan gambar sekaligus suara dalam waktu bersamaan.

Pada dasarnya hakikat video adalah mengubah suatu idea tau gagasan menjadi sebuah tayangan gambar dan suara yang proses perekamannya dan penayangannya melibatkan melibatkan teknologi tertentu.

Media film dan video memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan Media film dan video (Azhar Arsyad, 2003: 49).

  • Dapat melengkapi pengalaman-pengalaman dasar dari peserta didik ketika mereka membaca, berdiskusi, berpraktik, dan lain-lain. Film merupakan pengganti alam sekitar dan bahkan dapat menunjukkan objek yang secara normal tidak dapat dilihat, seperti cara kerja jantung ketika berdenyut.
  • Menggambarkan suatu proses secara tepat yang dapat disaksikan secara berulang-ulang jika dipandang perlu. Misalnya, langkah-langkah dan cara yang benar dalam berwudhu, praktik shalat fardhu, dan sebagainya.
  • Di samping mendorong dan meningkatkan motivasi, film dan video menanamkan sikap dan segi-segi afektif lainnya. Misalnya, film religi yang menyajikan akibat perbuatan durhaka kepada kedua orang tua dapat membuat peserta didik sadar untuk menghindari perilaku tidak baik tersebut.
  • Mengandung nilai-nilai positif dapat mengundang pemikiran dan pembahasan dalam kelompok peserta didik. Bahkan, fi lm dan video, seperti slogan yang sering didengar, dapat membawa dunia ke dalam kelas.
  • Dapat menyajikan peristiwa yang berbahaya bila dilihat secara langsung seperti lahar gunung berapi atau perilaku binatang buas.
  • Ditunjukkan kepada kelompok besar atau kelompok kecil, kelompok yang heterogen, maupun perorangan.
  • Dengan kemampuan dan teknik pengambilan gambar frame demi frame, fi lm yang dalam kecepatan normal memakan waktu satu minggu dapat ditampilkan dalam satu atau dua menit.

Kekurangan Media film dan video

  • Pengadaan film dan video umumnya memerlukan biaya mahal dan waktu yang banyak.
  • Pada saat fi lm dipertunjukkan, gambar-gambar bergerak terus sehingga tidak semua peserta didik mampu mengikuti informasi yang ingin disampaikan melalui fi lm tersebut.
  • Film dan video yang tersedia tidak selalu sesuai dengan kebutuhan dan tujuan belajar yang diinginkan; kecuali fi lm dan video itu dirancang dan diproduksi khusus untuk kebutuhan sendiri.

2.Televisi

Media Televisi adalah sebuah media telekomunikasi terkenal yang berfungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak beserta suara, baik itu yang monokrom (hitam-putih) maupun berwarna.

Kata “televisi” merupakan gabungan dari kata tele (“jauh”) dari bahasa Yunani dan visio (“penglihatan”) dari bahasa Latin, sehingga televisi dapat diartikan sebagai “alat komunikasi jarak jauh yang menggunakan media visual/ penglihatan”.

Televisi adalah sistem elektronik yang mengirimkan gambar diam dan gambar hidup bersama suara melalui kabel atau ruang.

Sistem ini menggunakan peralatan yang mengubah cahaya dan suara ke dalam gelombang elektrik dan mengkonversinya kembali ke dalam cahaya yang dapat dilihat dan suara yang dapat didengar (Azhar Arsyad, 2003: 50).

Televisi memiliki beberapa kelebihan dalam menyampaikan pesan dan materi pelajaran dan juga mempunyai kelemahan.

Kelebihan Media Televisi (Azhar Arsyad, 2003: 51 dan Arief S. Sadiman, 2006: 71).

  • Televisi dapat memancarkan berbagai jenis bahan audiovisual termasuk gambar diam, fi lm, objek, spesimen, dan drama.
  • Menyajikan model dan contoh-contoh yang baik bagi peserta didik.
  • Dapat membawa dunia nyata ke rumah dan ke kelas-kelas, seperti orang, tempat-tempat, dan peristiwa-peristiwa, melalui penyiaran langsung atau rekaman.
  • Memberikan kepada peserta didik peluang untuk melihat dan mendengar diri sendiri.
  • Dapat menyajikan program-program yang dapat dipahami oleh peserta didik dengan usia dan tingkatan pendidikan yang berbeda-beda.
  • Menyajikan visual dan suara yang amat sulit diperoleh pada dunia nyata; misalnya ekspresi wajah, dental operation, dan lain-lain.
  • Televisi dapat menghemat waktu guru dan peserta didik, misalnya dengan merekam siaran pelajaran yang disajikan dapat diputar ulang jika diperlukan tanpa harus melakukan proses itu kembali.

Kelemahan Media Televisi

  • Televisi hanya mampu menyajikan komunikasi satu arah.
  • Pada saat disiarkan akan berjalan terus dan tidak ada kesempatan untuk memahami pesan-pesannya sesuai dengan kemampuan individual peserta didik.
  • Guru tidak memiliki kesempatan untuk merevisi fi lm sebelum disiarkan.
  • Layar pesawat televisi tidak mampu menjangkau kelas besar sehingga sulit bagi semua peserta didik untuk melihat secara rinci gambar yang disiarkan.
  • Kekhawatiran muncul bahwa peserta didik tidak memiliki hubungan pribadi dengan guru, dan peserta didik bisa jadi bersikap pasif selama penayangan.

Klasifikasi Siaran Pendidikan

Televisi merupakan media massa yang mempunyai empat fungsi. Salah satu di antara keempat fungsi tersebut adalah sebagai media pendidikan.

Menurut Darwanto (2007: 130-134), acara siaran pendidikan yang disiarkan melalui televisi, ada dua klasifi kasi, yaitu: siaran pendidikan sekolah (school broadcasting) dan siaran pendidikan sepanjang masa.

  1. Siaran pendidikan sekolah (school broadcasting)

Menjadi sasaran acara ini adalah para murid sekolah, dari tingkat taman kanak-kanak sampai dengan para mahasiswa di perguruan tinggi.

Karena acara siaran pendidikan untuk sekolah mengacu kepada kurikulum, tentu akan memberikan pengaruh secara langsung kepada anak-anak tentang:

  • Menimbulkan keinginan kepada anak-anak untuk mencoba menggali pengetahuan sesuai dengan pola pikir mereka.
  • Membantu anak-anak atas suatu pengertian yang sebelumnya belum pernah dialami.
  • Merangsang untuk menumbuhkan hasrat dan menggali hubungan antara kegiatan belajar dengan keadaan sekitarnya.
  • Merangsang anak-anak untuk berkeinginan menjadi seorang cendekiawan.
  1. Siaran pendidikan sepanjang masa (life long education).

Berbeda dengan siaran pendidikan yang berlandaskan kurikulum sekolah, acara pendidikan yang termasuk dalam klasifi kasi ini dilandasi oleh nilai-nilai pendidikan saja dan yang menjadi sasarannya khalayak umum.

  1. Belajar di kelas melalui televisi.

Ruang kelas yang menggunakan televisi sebagai media pendidikan, biasanya menampung sejumlah 40-50 orang murid.

Menurut Cece Wijaya, dkk. (1992: 149), faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan televisi untuk kelas adalah:

  • Teknik pemilihan Pemilihan siaran televisi yang sesuai untuk pembelajaran adalah semacam proses evaluasi dan pemilihan film suara.
  • Kebijaksanaan penggunaan televisi Kebijaksanaan penggunaan teievisi untuk kelas merupakan salah satu tanggung jawab guru. Demikian juga dalam perencanaan siaran di kelas.
  1. Meningkatkan standar pemirsa televisi di rumah.

Kehadiran media TV dalam kehidupan modern ini sudah begitu memasyarakat, bahkan TV sudah menjadi kebutuhan tersendiri bagi setiap orang.

Pokok permasalahan yang paling besar mengapa TV yang bisa memberi efek buruk, sebenarnya adalah ketidakmampuan seorang anak kecil membedakan dunia yang ia lihat di TV dengan apa yang sebenarnya.

Bagi orang yang sudah dewasa, tidak ada masalah, sebab ia tahu apa yang sungguh-sungguh terjadi di dunia atau yang hanya fiksi belaka.

Demikianlah tentang Media Pembelajaran Berbasis Audio – Visual semoga bermanfaat.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *