Materi Panjat Tebing , Pada dasarnya panjat tebing atau rock climbing adalah teknik pemanjatan tebing batu yang memanfaatkan cacat batu tebing (celah atau benjolan) yang dapat dijadikan pijakan atau pegangan untuk mencapai suatu ketinggian atau mencapai puncak.

Materi Dasar Panjat Tebing

Materi Panjat Tebing Lengkap

Sejarah Panjat Tebing

Rock climbing merupakan kegiatan eksplorasi alam para pendaki gunung dimana untuk menghadapi medan yang tidak lazim dan memiliki tingkat kesulitan tinggi (medan vertical dan tebing terjal).

Sehingga muncullah teknik rock climbing untuk melewati medan tersebut dengan teknik pengamanan diri (safety procedur).Seiring dengan perkembangan zaman rock climbing menjadi salah satu kegiatan petualangan dan olahraga tersendiri.

Baca juga: Sejarah pecinta alam

Pada tahun 1854 batu pertama zaman keemasan dunia pendakian di Alpen diletakan oleh Alfred Wills dalam pendakiannya ke puncak Wetterhorn (3708 mdpl).

Inilah cikal bakal pendakian gunung sebagai olahraga, Kemudian pada tahun-tahun berikutnya barulah terdengar manusia-manusia yang melakukan pemanjatan tebing-tebing di seluruh belahan bumi.

Tahun 1972 untuk pertama kalinya panjat dinding masuk dalam jadwal olimpiade, yaitu didemonstrasikan dalam olimpiade Munich.

Pada tahun 1979 olah raga panjat tebing mulai merambah di Indonesia yang Dipelopori oleh Harry Suliztiarto yang memanjat tebing Citatah, Padalarang. Yang menjadi patok pertama panjat tebing modern di Indonesia.

Materi Panjat Tebing

Teknik Dasar Rock Climbing

1.Face Climbing

Yaitu memanjat pada permukaan tebing dimana terdapat tonjolan yang memadai sebagai pijakan kaki maupun pegangan tangan. Para pendaki biasanya mempunyai kecenderungan untuk membebankan berat bdan pada kekuatan tangan menempatkan badanya rapat ke tebing.

Cenderung merapatkan berat badan ke tebing dapat mengakibatkan timbulnya gaya pada tumpuan kaki. Hal ini bisa membuat kita tergelincir.

Baca juga: Pengetahuan Dasar Survival

2.Friction / Slab Climbing

Teknik ini hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya penumpu. Ini dilakukan pada permukaan tebing yang tidak terlalu vertical, kekasaran permukaan cukup untuk menghasilkan gaya gesekan.

Gaya gesekan terbesar diperoleh dengan membebani bidang gesek dengan bidang normal sebesar mungkin. Sol sepatu yang baik dan pembebanan maksimal diatas kaki akan memberikan gaya gesek yang baik.

3.Fissure Climbing

Teknik ini memanfaatkan celah yang gunakan oleh anggota badan yang seolah-olah berfungsi sebagai pasak. Dengan demikian dilakukan beberapa pengembangan dengan teknik-teknik sebagai berikut.

• Jamming, teknik memanjat dengan memanfaatkan celah yang tidak begitu besar. Jari-jari tangan dan kaki yang dapat dimasukkan/diselipkan pada celah sehingga seolah-olah menyerupai pasak.

• Chimneying, teknik memanjat celah vertical yang cukup lebar (chomney). Badan masuk diantara celah, dan punggung di salah satu sisi tebing. Sebelah kaki menempel pada sisi tebing depan, dan sebelah lagi menempel ke belakang. Kedua tangan diletakkan menempel pula. Kedua tangan membantu mendororng keatas bersamaan dengan kedua kaki yang mendorong dan menahan berat badan.

• Bridging, teknik memanjat pada celah vertical yang cukup besar (gullies). Caranya dengan menggunakan kedua tangan dan kaki sebagai pegangan pada kedua celah tersebut. Posisi badan mengangkang, kaki sebagai tumpuan dibantu oleh tangan yang juga berfungsi sebagai penjaga keseimbangan.

• Lay Back, teknik memanjat pada celah vertical dengan menggunakan tangan dan kaki. Pada teknik ini jari tangan mengait tepi celah tersebut dengan punggung miring sedemikian rupa untuk menenpatkan kedua kaki pada tepi celah yang berlawanan. Tangan menarik kebelakang dan kaki mendorong kedepan dan kemudian bergerak naik ke atas silih berganti.

Materi Panjat Tebing

Pemanjatan Berdasarkan Pemakaian Alat

Baca juga: Tumbuhan Yang Bisa Dimakan Saat Survival, Cara Untuk Konsumsi

Free Climbing

Pada free climbing, peralatan berfungsi hanya sebagai pengaman bila jatuh. Dalam pelaksanaanya ia bergerak sambil memasang, jadi walaupun tanpa alat-alat tersebut ia masih mampu bergerak atau melanjutkan pendakian. Dalam pendakian tipe ini seorang pendaki diamankan oleh belayer.

Free Soloing

Merupakan bagian dari free climbing, tetapi sipendaki benar-benar melakukan dengan segala resiko yang siap dihadapinya sendiri.Dalam pergerakannya ia tidak memerlukan peralatan pengaman.

Untuk melakukan free soloing climbing, seorang pendaki harus benar-benar mengetahui segala bentuk rintangan atau pergerakan pada rute yang dilalui.

Bahkan kadang-kadang ia harus menghapalkan dahulu segala gerakan, baik itu tumpuan ataupun pegangan, sehingga biasanya orang akan melakukan free soloing climbing bila ia sudah pernah mendaki pada lintasan yang sama.

Resiko yang dihadapi pendaki tipe ini sangat fatal sekali, sehingga hanya orang yang mampu dan benar-benar professional yang akan melakukannya.

Atrificial Climbing

Pemanjatan tebing dengan bantuan peralatan tambahan, seperti paku tebing, bor, stirrup, dll. Peralatan tersebut harus digunakan karena dalam pendakian sering sekali dihadapi medan yang kurang atau tidak sama sekali memberikan tumpuan atau peluang gerak yang memadai.

Teknik Turun / Rappeling

Teknik ini digunakan untuk menuruni tebing. Dikategorikan sebagai teknik yang sepeuhnya bergantung dari peralatan. Prinsip rappelling adalah sebagai berikut :

  1. Menggunakan tali rappel sebagai jalur lintasan dan tempat bergantung.
  2. Menggunakan gaya berat badan dan gaya tolak kaki pada tebing sebagai pendorong gerak turun.
  3. Menggunakan salah satu tangan untuk keseimbangan dan tangan lainnya untuk mengatur kecepatan.

Macam-macam dan Variasi Teknik Rappeling

  1. Body Rappel
    Menggunakan peralatan tali saja, yang dibelitkan sedemikian rupa pada badan. Pada teknik ini terjadi gesekan antara badan dengan tali sehingga bagian badan yang terkena gesekan akan terasa panas.
  2. Brakebar Rappe
    Menggunakan sling/tali tubuh, carabiner, tali, dan brakebar. Modifikasi lain dari brakebar adalah descender (figure of 8). Pemakaiannya hampir serupa, dimana gaya gesek diberikan pada descender atau brakebar.
  3. Sling Rappel
    Menggunakan sling/tali tubuh, carabiner, dan tali. Cara ini paling banyak dilakukan karena tidak memerlukan peralatan lain, dan dirasakan cukup aman. Jenis simpul yang digunakan adalah jenis Italian hitch.
  4. Arm Rappel / Hesti
    Menggunakan tali yang dibelitkan pada kedua tangan melewati bagian belakang badan. Dipergunakan untuk tebing yang tidak terlalu curam. Dalam rapelling, usahakan posisi badan selalu tegak lurus pada tebing, dan jangan terlalu cepat turun. Usahakan mengurangi sesedikit mungkin benturan badan pada tebing dan gesekan antara tubuh dengan tali. Sebelum memulai turun, hendaknya :
  5. Periksa dahulu anchornya.
  6. Pastikan bahwa tidak ada simpul pada tali yang dipergunakan.
  7. Sebelum sampai ke tepi tebing hendaknya tali sudah terpasang dan pastikan bahwa tali sampai ke bawah (ke tanah).
  8. Usahakan melakukan pengamatan sewaktu turun, ke atas dan ke bawah, sehingga apabila ada batu atau tanah jatuh kita dapat menghindarkannya, selain itu juga dapat melihat lintasan yang ada.
  9. Pastikan bahwa pakaian tidak akan tersangkut carabiner atau peralatan lainnya.

Materi Panjat Tebing

Peralatan Panjat Tebing

Baca juga: Peralatan Susur Gua (Caving)

Tali Pendakian

Fungsi utamanya dalam pendakian adalah sebagai pengaman apabila jatuh.Dianjurkan jenis-jenis tali yang dipakai hendaknya yang telah diuji oleh UIAA, suatu badan yang menguji kekuatan peralatan-peralatan pendakian.

Panjang tali dalam pendakian dianjurkan sekitar 50 meter, yang memungkinkan leader dan belayer masih dapat berkomunikasi.

Umumnya diameter tali yang dipakai adalah 10-11 mm, tapi sekarang ada yang berkekuatan sama, yang berdiameter 9.8 mm. Ada dua macam tali pendakian yaitu :

  • Static Rope, tali pendakian yang kelentirannya mencapai 2-5 % fari berat maksimum yang diberikan. Sifatnya kaku, umumnya berwarna putih atau hijau. Tali static digunakan untuk rappelling.
  • Dynamic Rope, tali pendakian yang kelenturannya mencapai 5-15 % dari berat maksimum yang diberikan. Sifatnya lentur dan fleksibel. Biasanya berwarna mencolok (merah, jingga, ungu).

Carabiner

Adalah sebuah cincin yang berbentuk oval atau huruf D, dan mempunyai gate yang berfungsi seperni peniti. Ada 2 jenis carabiner :

  • Carabiner Screw Gate (menggunakan kunci pengaman).
  • Carabiner Non Screw Gate (tanpa kunci pengaman)

Sling

Sling biasanya dibuat dari tabular webbing, terdiri dari beberapa tipe. Fungsi sling antara lain :

  • sebagai penghubung.
  • membuat natural point, dengan memanfaatkan pohon atau lubang di tebing.
  • Mengurangi gaya gesek / memperpanjang point
  • Mengurangi gerakan (yang menambah beban) pada chock atau piton yang terpasang.

Descender

Sebuah alat berbentuk angka delapan. Fungsinya sebagai pembantu menahan gesekan, sehingga dapat membantu pengereman. Biasa digunakan untuk membelay atau rappelling.

Ascender

Berbentuk semacam catut yang dapat menggigit apabila diberi beban dan membuka bila dinaikkan. Fungsi utamanya sebagai alat Bantu untuk naik pada tali.

Baca juga: Kode Etik Pecinta Alam Indonesia Wajib Kamu Ketahui

Harnes / Tali Tubuh

Alat pengaman yang dapat menahan atau mengikat badan. Ada dua jenis harnes :

  • Seat Harnes, menahan berat badan di pinggang dan paha.
  • Body Harnes, menahan berat badan di dada, pinggang, punggung, dan paha.

Harnes ada yang dibuat dengan webbning atau tali, dan ada yang sudah langsung dirakit oleh pabrik.

Sepatu

Ada dua jenis sepatu yang digunakan dalam pemanjatan :

  • Sepatu yang lentur dan fleksibel. Bagian bawah terbuat dari karet yang kuat. Kelenturannya menolong untuk pijakan-pijakan di celah-cleah.
  • Sepatu yang tidak lentur/kaku pada bagian bawahnya. Misalnya combat boot. Cocok digunakan pada tebing yang banyak tonjolannya atau tangga-tangga kecil. Gaya tumpuan dapat tertahan oleh bagian depan sepatu.

Anchor (Jangkar)

Alat yang dapat dipakai sebagai penahan beban. Tali pendakian dimasukkan pada anchor, sehingga pendaki dapat tertahan oleh anchor bila jatuh. Ada dua macam anchor, yaitu :

  • Natural Anchor, bias merupakan pohon besar, lubang-lubang di tebing, tonjolan-tonjolan batuan, dan sebagainya.
  • Artificial Anchor, anchor buatan yang ditempatkan dan diusahakan ada pada tebing oleh si pendaki. Contoh : chock, piton, bolt, dan lain-lain. Mengetahui perbedaan antara; nuts dan cams, friends dan carabiner, dan lainnya

Belay Device (Peralatan untuk Belay)

Belay Device adalah peralatan untuk menahan tali saat pemanjatan agar pemanjat tidak terjatuh. Banyak jenis yang biasa dipakai, yang paling sering dipakai adalah ATC, Figure 8, dan Grigri.

Cam atau Friends

Spring Loaded Camming Device (SLCD) atau biasa disebut cam atau friends adalah peralatan proteksi pemanjatan yang fenomenal, diciptakan oleh Ray Jardine seorang aerospace engineer yang senang manjat pada tahun 1973.

Jika ditarik, ujungnya akan mengecil sehingga mudah dimasukkan ke celah tebing. Jika dilepas ujungnya akan mengembang memenuhi celah tebing. Cam tersedia dalam beberapa ukuran disesuaikan dengan lebar celah tebing.

Hexes

Adalah pasangan sling dengan tabung alumunium (titanium) segi enam. Berfungsi sama dengan cam, berharga lebih murah, tetapi lebih sulit dalam penempatannya di celah tebing. Seperti cam. hexes tersedia dalam beberapa ukuran.

Nuts

Nuts adalah peralatan proteksi yang paling banyak dipakai oleh pemanjat tebing, fungsinya sama dengan cam dan hexes dengan harga lebih murah.

Tricams

Adalah peralatan proteksi pemanjatan, walaupun berbeda bentuk tetapi fungsinya sama dengan nuts. Pemakaiannya relatif sulit, tidak dianjurkan dipakai untuk pemula.

Materi Panjat Tebing

Prosedur Pemanjatan

Baca juga: Sejarah Panjat Tebing Dunia dan Indonesia

Tahapan-tahapan dalam suatu pemanjatan hendaknya dimulai dari langkah-langkah sebagai berikut

  1. Mengamati lintasan dan memikirkan teknik yang akan dipakai.
  2. Menyiapkan perlengkapan yang diperlukan.
  3. a. Untuk leader, perlengkapan teknis diatur sedemikian rupa, agar mudah untuk diambil / memilih dan tidak mengganggu gerakan. Tugas leader adalah membuka lintasan yang akan dilalui oleh dirinya sendiri dan pendaki berikutnya.
    b. Untuk belayer, memasang anchor dan merapikan alat-alat (tali yang akan dipakai). Tugas belayer adalah membantu leader dalam pergerakan dan mengamankan leader bila jatug. Belayer harus selalu memperhatikan leader, baik aba-aba ataupun memperhatikan tali, jangan terlalu kencang dan jangan terlalu kendur.
  4. Bila belayer dan leader sudah siap memulai pendakian, segera memberi aba-aba pendakian.
  5. Bila leader telah sampai pada ketinggian 1 pitch (tali habis), ia harus memasang achor.
  6. Leader yang sudah memasang anchor di atas selanjutnya berfungsi sebagai belayer, untuk mengamankan pendaki berikutnya.

1 Komentar

Pengetahuan Dasar Bagi Mountaineer, Yang Wajib Kamu Ketahui · 01/12/2019 pada 5:46 pm

[…] Baca juga: Materi Panjat Tebing (Rock Climbing) […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *