Langkah Kerja Penelitian Dialektologi – dalam melakukan penelitian dialektologi bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut.

1.2 Langkah – langkah kerja yang ditempuh dalam penelitian dialektologi ini adalah :

  • Memilih masalah kebahasaan yang akan diteliti;
  • Melakukan studi pendahuluan melalui studi pustaka, survey, dan berkonsultasi dengan para ahli bahasa maupun narasumber;
  • Merumuskan permasalahan-permasalahan yang akan dikaji atas dasar studi pendahuluan ;
  • Merumuskan anggapan dasar , posatulat, atau asumsi dasar sebagai pijakan yang kokoh bagi permasalahan yang akan dikaji ;
  • Memilih pendekatan yang berkaitan dengan metode dan teknik yang akan digunakan untuk penyediaan data, menganalisis data dan menyajikan hasil analisis data;
  • Mennetukan informan atau responden sebagai pembahan inti;
  • Menentukan dan menyusun instrumen penelitian yang berupa kartu data; daftar tanya variasi fonetis, kosakata, dan linambang;
  • Mencari dan mengumpulkan data;
  • Menganalisis data;
  • Membuat kesimpulan;
  • Menyusun laporan penelitian.

Dari kesebelas langkah di atas dapat dikelompokkan menjadi tiga tahapan, yaitu tahap persiapan ( 1-7), tahap pelaksanaan ( 8 ), dan tahap penyelesaian (10-11).

Langkah Kerja Penelitian Dialektologi

Langkah Kerja Penelitian Dialektologi

1.3 Contoh Aplikasi Penelitian Dialektologi

1.3.1 Materi / Bahan

Materi atau bahan yang menjadi obyek sasaran penelitian adalah bahasa ilmiah yang dilisankan oleh penutur yang normal dalam situasi pemakaian yang wajar dan terhayati oleh peneliti. Dalam hal ini misalnya bahasa yang kan dikaji adalah bahasa Jawa Nelayan di Pesisir Cilacap.

Materi tersebut termasuk ragam lisan yang merupakan obyek primer dalam linguistik. Hal itu menjadi prioritas dalam penelitian ini dengan alasan sebagai berikut :

  • Bahasa tulis ternyata adanya turunan dari bahasa lisan.
  • Bahasa tulis baru ada beberapa puluh abad yang lalu, sedangkan bahasa lisan telah ada beratus-ratus abad sepanjang sejarah kehidupan umat manusia,
  • Bahasa tulis tidak melingkupi semua masyarkat bahasa yang ada dimuka bumi, sedangkan bahasa lisan selalu menjadi pemilik yang tidak terpisahkan dari semua orang dalam lingkup masyarakat apapun, dan
  • Bahasa tulis masyarakat tertentu konon selalu dipelajari dan dikuasai setelah penuturnya memahami bahasa lisan masyarakat yang bersangkutan (Sudaryanto, 1988a : 42).

Baca juga:

1.3.2 Populasi dan sampel

1.3.2.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian (Arikunto, 1998: 115). Keseluruhan obyek penelitian tersebut dapat terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuhan-tumbuhan, gejala-gejala, nilai test atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian (Nawawi, 1998 : 141).

Populasi dalam penelitian dialek misalnya tuturan bahasa Jawa oleh masyarakat penutur di pesisir Cilacap. Masyarakat tersebut berdomisili di wilayah Kotif Cilacap.

Populasi tersebut termasuk populasi tak terbatas dan bersifat homogen, yakni populasi yang tidak dapat ditentukan batas-batasnya, sehingga tidak dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah yang tepat secara kuantitatif.

Sifat homogennya terletak pada aspek kesamaan bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi, yakni subdialek bahasa Jawa Cilacap.

1.3.2.2 Sampel

Sampel adalah sebagian wakil dari Populasi yang diteliti (Arikunto, 1998 : 117). Sampel merupakan bagian dari populasi yang benar-benar dapat berfungsi sebagai contoh atau dapat menggambarkan keadaan populasi yang sebenarnya. Karena itu sampel penelitian harus bersifat representatif.

Mengingat kehomogenan populasi, tidak semua penutur dijadikan subyek penelitian, sebagai gantinya dipilih sampel. Teknik ini dipilih didasarkan pada anggapan dasar bahwa bahasa Jawa yang digunakan oleh masyarakat nelayan dikawasan pesisir Cilacap relatif sama.

Sehubungan dengan hal penelitian Ragam Bahasa Jawa Nelayan Di Kawasan Pesisir Cilacap , sampel yang digunakan adalah segenap tuturan bahasa Jawa yang dipilih dari penutur masyarakat nelayan di Kecamatan Cilacap Selatan, Kecamatan Cilacap Tengah, dan Kecamatan Cilacap Utara (kesemuanya termasuk wilayah Kotif).

Setiap kecamatan dipilih dua informan inti sebagai pembantu bahasa. Agar data yang diperoleh dari informan valid, terlebih dahulu ditentukan beberapa persyaratan bagi informan. Persyaratan tersebut menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan usia, pendidikan, asal-usul, kemampuan dan kemurnian bahasa informan. Hal tersebut sesuai dengan apa yang disarankan oleh Ayatrohaedi (1983 : 48) antara lain :

  1. usia yang dianggap sangat sesuai bagi seorang informan adalah usia pertengahan (40-50 tahun);
  2. pendidikan informan bukan pendidikan yang terlalu tinggi, ataupun buta huruf ;
  3. asal-usul informan harus diusahakan dari desa atau tempat yang diteliti;
  4. kemampuan informan mengenai bahasa dan dialeknya dengan baik;
  5. kemurnian bahasa informan baik yakni sedikit sekali terkena pengaruh dari dialek atau bahasa yang dipergunakan didaerah tetangga.

Persyaratan tersebut dipilih dengan beberapa pertimbangan antara lain :

  • informan yang terlalu tua kurang ideal, karena mereka pada umumnya sudah tidak spontan, ingatanya sudah banyak berkurang, pendengaranya berkurang, ompong dan sebagainya, disamping ketahanan jasmani juga banyak sudah berkurang untuk menghadapi pekerjaan yang memerlukan banyak waktu dan ketentuan;
  • informan yang terlalu muda kurang ideal, karena mereka sering merancukan pengertian dialeknya dengan bahasa baku, terutama jika mereka pernah bersekolah pengaruh bahasa baku itu akan lebih kuat kepada mereka;
  • informan yang buta huruf kurang ideal, karena umumnya mereka sangat sukar ditanyai, dan tidak mempunyai kebiasaan untuk menerjemahkan bentuk-bentuk kalimat yang rumit;
  • informan yang berprofesi sebagai guru atau orang ynag berpendidikan kurang ideal, karena tuturan yang diperoleh kurang meyakinkan apakah berdasarkan dialek ataukah didasarkan kepada bahan yang terdapat dalam buku;
  • informan yang ahli dialek dan kaum cendekiawan kurang ideal, karena mereka biasanya merubah dahan dialek sebagaimana adanya, dengan apa yang menurut mereka lebih baik;
  • informan yang pernah meninggalkan kampungnya cukup lama kurang ideal, karena dari mereka tidak dapat lagi diharapkan bahan yang asli dari daerahnya sendiri. Mereka sudah banyak terpengaruh oleh bahasa tempat mereka pernah tinggal;
  • informan yang orang tuanya bukan pribumi kurang ideal, karena dari mereka besar sekali kemungkinan diperoleh bahan yang bercampur dengan dialek asal orangtuanya;
  • informan yang termasuk kelompok orang kecil kurang ideal, karena mereka pada umumnya kurang biasa menghadapi orang asing sehingga mereka pada umumnya gugup dan tuturan mereka tidak langsung dan spontan (Pop dalam Ayatroehadi, 1983 : 49-50).
  • Berdasarkan persyaratan dan beberapa pertimbangan diatas, yang dijadikan kriteria informan atau pembantu bahasa dalam penelitian ini adalah :
  • penduduk asli kelahiran daerah yang diteliti;
  • mobilitas rendah, tidak sering pergi keluar desa tempat tinggal, dan belum pernah menetap lama diluar desa tempat tinggal;
  • pendidikan maksimal tamatan Sekolah Dasar;
  • umur antara 40-60 tahun ;
  • sehat jasmani dan rohani, termasuk alat ucap pendengarannya;
  • profesi sebagai nelayan;
  • menguasai bahasa Jawa, serta
  • tidak menguasai bahasa asing dan bahasa daerah lainya.

1.3.3 Metode dan Teknik Penelitian

Metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan (Depdikbud, 1995:652).

Metode agar dapat bermanfaat haruslah digunakan dalam pelaksanaan yang konkret. Menurut Sudaryanto (1988a : 26) metode sebagai cara kerja haruslah dijabarkan sesuai dengan alat dan sifat alat yang dipakai. Jabaran metode sesuai dengan alat beserta sifat alat yang dimaksud disebut teknik.

Dengan demikian orang dapat mengenal metode hanya lewat teknik-tekniknya; sedangkan teknik-teknik yang bersangkutan selanjutnya dapat dikenali dan diidentifikasi hanya melalui alat-alat yang digunakan beserta sifat alat-alat yang bersangkutan.

Sehubungan dengan hal itu metode yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada tahapan strategisnya, yaitu : (i) metode pengumpulan data, (ii) metode analisis data, dan (iii) metode penyajian hasil analisis data (Sudaryanto, 1988a : 57). Ketiga tahapan tersebut dilakukan dengan menerapkan metode dan teknik tertentu.

Metode yang sering digunakan oleh para peneliti bahasa dalam penelitian dialek antara lain: metode deskriptif, observasi, survey, sedangkan teknik yang sering digunakan: wawancara, angket / daftar tanya, rekam, dokumentasi. Berikut metode dan teknik yang digunakan peneliti pada tahun 1981,1982, 1983, dan 1986 yang kami temukan: (observasi; teknik: wawancara, angket, Suwaji,dkk, 1981), deskriptif, angket nonkebahasaan maupun kebahasaan, wawancara, perekaman, dokumentasi, Hadiatmaja,1982), deskriptif (kepustakaan, observasi, rekaman Apituley,1983), (deskriptif struktural, observasi), wawancara langsung, rekam, daftar tanya, Kawi, 1983) deskriptif, kadir 1986) (survey, pungut) kepustakaan, wawancara, Sumarto, 1986).

Lebih rinci lagi yang disarankan oleh Sudaryanto, 1988 tentang metode dan teknik dengan merinci tahapan-tahapan.

Tahapan strategi yang pertama (penyediaan data) dilakukan dengan menggunakan metode simak dan metode cakap (Sudaryanto, 1988b : (Metode simak) dilakukan dengan menyimak misalnya penggunaan bahasa atau tuuran masyarakat nelayan dikawasan Pesisir Cilacap. Penyimakan tersebut diwujudkan dengan teknik sadap sebagai teknik dasarnya, yakni menyadap pembicaraan seeorang atau beberapa orang. Penyadapan itu dilakukan dengan teknik SLC (Simak Libat Cakap) yakni peneliti terlibat langsung dalam pembicaraan dan menyimak pembicaraan tersebut. Metode cakap dilakukan dengan mengadakan percakapan antara peneliti dengan penutur. Percakapan tersebut diwujudkan dengan teknik pancing sebagai teknik dasarnya, yakni untuk memperoleh data peneliti memancing seseorang atau beberapa orang untuk berbicara. Kegiatan memancing bicara itu dilakukan dengan teknik CS (Cakap Semuka), yakni peneliti mengadakan percakapan langsung dengan penutur atau nara sumber. Ketika peneliti sedang mengadakan penyimakan dan percakapan dilakukan juga perekaman dengan tape recorder dan pencatatan pada kartu data. Untuk melengkapi data, pada kesempatan lain ditempuh juga teknik SLBC ( Simak Bebas Libat Cakap), yakni peneliti hanya bertindak sebagai pemerhati, mendengarkan apa yang dikatakan oleh masyarakat nelayan dalam proses berdialog. Teknik ini juga dilakukan dengan pencatatan pada kartu data. Setelah pengumpulan data yang ditandai dengan pencatatan itu dirasa cukup kemudian dipilih dan dipilah-pilah dengan membuang yang tidak diperlukan serta menata dengan mengurutkan sesuai dengan bidang yang akan dikaji.

Tahapan strategi yang kedua (analisis data) dilakukan dengan menggunakan metode padan yakni metode dengan alat penentunya diluar, terlepas, dan tidak menjual bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan (Sudaryanto, 1993 : 13). Metode yang dipilih adalah metode padan translasional yakni dengan membandingkan BJNPC dengan BJB (Bahasa Jawa Baku).

Tahapan strategi Ketiga (penyajian hasil analisis data) dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif yakni memaparkan hasil penelitian berdasarkan pada fakta yang ada, yang memang secara empiris hidup pada penutur-penuturnya (Sudaryanto, 1988a : 62). Hal ini yang dideskripsikan dalam penelitian ini adalah : variasi fonetis, variasi fonemis, variasi morfologis, segi sintaksis, dan variasi semantis bahasa Jawa nelayan dikawasan pesisir Cilacap.

1.3.4 Deskripsi Hasil Analisis

Hal-hal yang dideskripsikan meliputi:

  • Variasi fonetis
  • Variasi fonem
  • Variasi morfologis
  • Deskripsi kekhasan sintaksis
  • Deskripsi variasi semantis

Variasi fonetis dan variasi fonem, dijelaskan dalam bentuk distribusi vokal dan distribusi konsonan , ditampilkan dalam bentuk transkrip fonetis, dibuat tabel dan dibuktikan dengan pasangan minimal.
Deskripsi variasi morfologis diuraikan proses pembentukan kata mulai dari pembubuhan afiksasi, reduplikasi sampai pada tataran komposisi.
Deskripsi kekhasan sintaksis yang diuraiakan adalah tuturan yang berbentuk frasa dan tuturan yang berbentuk kalimat

Simpulan

Dari uraian pembahasan dan contoh di atas dapat kami simpulkan sebagai berikut.

1.Langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam penelitian dialektologi melalui tiga tahapan yaitu:

a. Tahap persiapan

Yaitu memilih masalah kebahasaan yang akan diteliti; melakukan studi pendahuluan melalui studi pustaka, survey, dan berkonsultasi dengan para ahli bahasa maupun narasumber; merumuskan permasalahan-permasalahan yang akan dikaji atas dasar studi pendahuluan ; merumuskan anggapan dasar , posatulat, atau asumsi dasar sebagai pijakan yang kokoh bagi permasalahan yang akan dikaji; memilih pendekatan yang berkaitan dengan metode dan teknik yang akan digunakan untuk penyediaan data, menganalisis data dan menyajikan hasil analisis data; menentukan informan atau responden sebagai pembahan inti; menentukan dan menyusun instrumen penelitian yang berupa kartu data; daftar tanya variasi fonetis, kosakata, dan linambang.

b. Tahap Pelaksanaan

Yaitu mencari dan mengumpulkan data yang dilanjutkan dengan menganalisis data.

c. Tahap Penyelesaian

Yaitu membuat kesimpulan dan menyusun laporan penelitian.

2.Aplikasi Pengkajian dialek

  • Populasi
  • Berupa tuturan atau bahasa lisan
  • Sampel
  • Para penutur bahasa dengan kriteria persyarata tertentu
  • Metode dan teknik
  • Metode yang sering digunakan oleh para peneliti bahasa dalam penelitian dialek antara lain: metode deskriptif, observasi, survey, sedangkan teknik yang sering digunakan: wawancara, angket / daftar tanya, rekam, dokumentasi
  • Dekripsi hasil penelitian
  • Hal-hal yang dideskripsikan antara lain: Variasi fonetis, Variasi fonem, Variasi morfologis, Deskripsi kekhasan sintaksis, Deskripsi variasi semantis

DAFTAR PUSTAKA

Ayatrohaedi, 1983. Dialektologi Sebuah Pengantar. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Chaer, Abdul & L. Agustina. 1995. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta

Kridalaksana, Harimurti, 1984.Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia

Nababan. P.W.J. 1091. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Umum

Sudaryanto, 1980. Aneka Konsep Kedataan lingual dalam Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
1988a.Metode Linguistik Bagian Pertama: Ke Arah Memahami Metode Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
1988b. Metode Linguistik Bagian Kedua: Metode dan Aneka Teknik Mengumpulkan data. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistik.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Demikianlah tentang Langkah Kerja Penelitian Dialektologi semoga bermanfaat.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *